Rabu, 18 Februari 2015

Nanjak ke TNG Halimun Salak

Keinginan untuk gowes menuju gerbang TNGHS yang berada di Gunung Bunder sudah lama mencuat. Melihat foto-foto yang diunggah oleh kelompok gowes lain dalam sosmed terlihat keren... berpose di depan gerbang TNGHS. 

Didorong oleh keinginan untuk menyambangi tempat tersebut dilakukan searching data via internet (tepatnya tanya sama mbah gugel hehehe...). Hasilnya adalah :  Gerbang TNGHS berada di ketinggian ±855mdpl. Jalur yang terlayak untuk ditempuh oleh kami yang berbase di Bojinggede, Bogor adalah melalui jalur Cilebut, Yasmin, Darmaga IPB, Ciampea, Cibatok dan berbelok menuju Gunung Bunder yang kalau dihitung adalah berjarak sekitar 35km.


Barangkali ada yang belum tahu tentang TNGHS, berikut informasinya yang diambil (copas) dari Wikipedia.... lumayanlah buat nambah-nambah pengetahuan kita.....

TNGHS adalah singkatan dari Taman Nasional Gunung Halimun - Salak yang merupakan salah satu taman nasional yang terletak di Jawa bagian barat. Kawasan konservasi dengan luas 113.357 hektare ini menjadi penting karena melindungi hutan hujan dataran rendah yang terluas di daerah ini, dan sebagai wilayah tangkapan air bagi kabupaten-kabupaten di sekelilingnya. Melingkup wilayah yang bergunung-gunung, dua puncaknya yang tertinggi adalah Gunung Halimun (1.929m) dan Gunung Salak (2.211m). Keanekaragaman hayati yang dikandungnya termasuk yang paling tinggi dengan keberadaan beberapa jenis fauna penting yang dilindungi di sini seperti Elang Jawa, Macan Tutul Jawa, Owa Jawa, Surili dan lain-lain. Kawasan TNGHS dan sekitarnya juga merupakan tempat tinggal beberapa kelompok Masyarakat Adat, antara lain masyarakat Adat Kasepuhan Banten Kidul dan masyarakat Baduy.
Wilayah Gunung Halimun telah ditetapkan menjadi hutan lindung semenjak tahun 1924, luasnya ketika itu 39.941 ha. Kemudian pada 1935 kawasan hutan ini diubah statusnya menjadi Cagar Alam Gunung Halimun. Status cagar alam ini bertahan hingga tahun 1992, ketika kawasan ini ditetapkan menjadi Taman Nasional Gunung Halimun dengan luas 40.000 ha, sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 282/Kpts-II/1992 tanggal 28 Februari 1992. Sampai dengan lima tahun kemudian, taman nasional yang baru ini pengelolaannya ‘dititipkan’ kepada Taman Nasional Gunung Gede – Pangrango yang wilayahnya berdekatan. Baru kemudian pada 23 Maret 1997, taman nasional ini memiliki unit pengelolaan yang tersendiri sebagai Balai Taman Nasional (BTN) Gunung Halimun.
Pada tahun 2003 atas dasar SK Menteri Kehutanan No.175/Kpts-II/2003, kawasan hutan BTN Gunung Halimun diperluas, ditambah dengan kawasan hutan-hutan Gunung Salak, Gunung Endut dan beberapa bidang hutan lain di sekelilingnya, yang semula merupakan kawasan hutan di bawah pengelolaan Perum Perhutani. Sebagian besar wilayah yang baru ini, termasuk kawasan hutan Gunung Salak di dalamnya, sebelumnya berstatus hutan lindung. Namun kekhawatiran atas masa depan hutan-hutan ini yang terus mengalami tekanan kegiatan masyarakat dan pembangunan di sekitarnya serta harapan berbagai pihak untuk menyelamatkan fungsi dan kekayaan ekologi wilayah ini telah mendorong diterbitkannya SK tersebut. Dengan alasan ini maka kini namanya berganti menjadi Balai Taman Nasional Gunung Halimun – Salak, dan luasnya bertambah menjadi 113.357 ha.
Secara administratif, kawasan konservasi TN Gunung Halimun – Salak termasuk ke dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Bogor dan Sukabumi di Provinsi Jawa Barat, dan Lebak di Provinsi BantenTopografi wilayah ini berbukit-bukit dan bergunung-gunung pada kisaran ketinggian antara 500–2.211 mdpl. Puncak-puncaknya di antaranya adalah G. Halimun Utara (1.929 m), G. Ciawitali (1.530 m), G. Kencana (1.831 m), G. Botol (1.850 m), G. Sanggabuana (1.920 m), G. Kendeng Selatan (1.680 m), G. Halimun Selatan (1.758 m), G. Endut (timur) (1.471 m), G. Sumbul (1.926 m), dan G. Salak (puncak 1 dengan ketinggian 2.211 m, dan puncak 2 setinggi 2.180 m). Jajaran puncak gunung ini acapkali diselimuti kabut yang dalam Bahasa Sunda adalah halimun, maka dinamai demikian.
Wilayah ini merupakan daerah tangkapan air yang penting di sebelah barat Jawa Barat. Tercatat lebih dari 115 sungai dan anak sungai yang berhulu di kawasan Taman Nasional. Tiga sungai besar mengalir ke utara, ke Laut Jawa, yakni Cikaniki dan Cidurian (yang bergabung dalam DAS Cisadane), serta Ciberang, bagian dari DAS Ciujung. Sementara terdapat 9 daerah aliran sungai penting yang mengalir ke Samudera Hindia di selatan, termasuk diantaranya Cimandiri (Citarik, Cicatih), Citepus, Cimaja, dan Cisolok. Sungai-sungai ini mengalir melintasi wilayah Bogor, Tangerang, Rangkasbitung, Bayah dan Palabuhan Ratu.
Pyuuuh.... panjang sekali informasinya....

Ajakan untuk gowes ke arah Gunung Bunder ini ternyata kurang diminati oleh kebanyakan temens, ditambah dilaksanakan pada hari Sabtu di mana banyak yang sudah menjadwalkan kegiatan. Sedangkan pada hari Minggu ada rencana kerja bakti untuk memperindah KM0.

Makanya pada hari Sabtu, 14 Februari 2015 yang bisa berangkat hanya PaMen, Difa dan saya (Onwar). Saya agak maksa untuk berangkat hari ini karena kebetulan ada teman se-asrama waktu tinggal di Jatinangor yang mengadakan acara ngumpul-ngumpul di daerah Cibening (sebuah desa di atas Desa Cibatok)... sekali dayung dua tiga pulau terlampaui... atau tepatnya ada udang di balik batu kali ya? Hehehe....

Kami agak siang berangkat, pk.09:00 lebih baru mulai gowes dari KM0. Gowes santai saja mengusuri jalan menuju Cilebut. Di Cilebut terjadi kesalahpahaman, Pamen dan Difa berbelok kanan ke arah Cimanggu sedangkan saya yang berpikiran lurus (hahaha....) tetap lurus saja. Akhirnya kami bertemu lagi di pertigaan lampu merah Yasmin.

Perjalanan dilanjutkan. Kami berhenti sejenak di depan Gerbang IPB untuk berpotoria. Waktu menunjukkan pk.10:15.



Rencana kami akan langsung menuju Cibening, tempat temans eks Jatinangor berkumpul agar bisa sekalian istirahat. Tetapi berhubung Difa yang teriak lapar (anak dalam masa pertumbuhan... hehehe) akhirnya kami berhenti di warung bakso yang terletak di depan Balai Desa Cibatok Satu.



Pk.11:30 perjalanan dilanjutkan dan pas beduk Dzuhur kami tiba di TKP di Cibening. Teman sudah banyak yang berkumpul.







Sebenarnya sih saya pengen lebih lama berkumpul dengan temans... apalagi ada yang sudah menyiapkan kartu remi. Kami dahulu sering bermain truf di Jatinangor. Tetapi karena mengemban tugas untuk menyelesaikan missi menuju Gerbang TNGHS di Gunung Bunder (ehm...), saya pamit duluan. Kami bertiga meninggalkan Cibening pk.14:30. 

Setelah melalap tanjakan-tanjakan yang datang keroyokan, meniti tanjakan  yang datang tanpa henti, pk 16:30 akhirnya kami tiba di Gerbang Taman Nasional Gunung Halimun Salak.













Tidak lama kami berada di sini. Waktu sudah menunjukkan pk.16:30 lebih.... perjalanan masih panjang maka kami segera meluncur turun. Kami turun melalui jalur Cibeureum/Ciherang Darmaga.

Istirahat makan di Bubulak pk.19:00 di sebuah warung tenda Pecel Ayam Lamongan.



Kami terus meluncur pulang menuju Bojonggede. Dan tiba di  KM0 sekitar pk.20:30. Alhamdulillah